ETOS
KERJA DALAM ISLAM
Haris Ridwan Zain (07650101)
Teknik Informatika, UIN Maliki Malang
E-mail : hrz.scorpion@gmail.com
Abstrak
Bekerja dengan motivasi, cara dan orientasi
yang mulia menjadi perkara yang sangat mulia di sisi Allah SWT. Amal yang menjadikan
manusia sebagai wakil Allah SWT. dalam memakmurkan bumiNya. Sebuah tatanan Etos
kerja merupakan kehendak atau berkemauan yang disertai semangat yang tinggi
dalam rangka mencapai cita-cita yang positif dalam suatu tatanan prilaku dalam
sebuah pekerjaan yang penuh Tanggung jawab yang berarti kesiapan untuk
bertanggung jawab di hadapan Yang Mutlak karena kerja adalah saksi bagi semua
tindakan manusia.
Kata Kunci : Bekerja, Etos kerja, Tanggung
jawab.
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Bekerja dengan
motivasi, cara dan orientasi yang mulia menjadi perkara yang sangat mulia di
sisi Allah SWT. Amal yang menjadikan manusia sebagai wakil Allah SWT. dalam
memakmurkan bumiNya. Bekerja dengan model seperti ini tidak menjadikan
rentang waktu panjang yang habis, tenaga dan pikiran yang terkuras menjadi
sia-sia. Sebaliknya, sangat disayangkan siapa yang waktu, tenaga dan pikirannya
banyak tercurah dalam bekerja, namun tidak menjadi sesuatu yang mulia berupa
ibadah dan manfaat kelak bagi kehidupan masa depannya, utamanya di Akhirat.
Sesungguhnya dikotomi antara
"kerja" dengan "belajar" tidak perlu terjadi. Karena,
apabila kita menghayati ikrar kita secara mendalam pada proposisi "Iyyaka
na'budu wa iyyaka nasta'in" dalam surat Al-Fatihah, maka dunia kehidupan
kaum Muslimin bernuansa ibadah yang sangat kental. Dalam firman-Nya yang lain,
Allah mengatakan, "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan
untuk beribadah," (QS Adz-Dzariyat, 51 : 56). Sehingga, jelas-jelas
tidak ada pemisahan antara yang sakral dengan yang profan, yang duniawi dengan
yang ukhrawi.
Ketika
mengomentari ayat, "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad
(perjanjian) itu" (QS Al-Ma'idah, 5 :1), Raghib Isfahani, sebagaimana
dikutip Seyyed Hossein Nasr (1994) mengatakan bahwa perjanjian-perjanjian itu
meliputi perjanjian-perjanjian antara Tuhan dan manusia, yakni
kewajiban-kewajiban manusia kepada Tuhan; [perjanjian antara manusia dan
dirinya sendiri; dan [perjanjian] antara individu dan sesamanya.
Dengan
demikian, perjanjian (uqud) yang dirujuk pada ayat tersebut berkisar
antara pelaksanaan shalat sehari-hari sampai menjual barang dagangan di bazaar,
dari sembah sujud hingga kerja mencari penghidupan.
Berangkat
dari pandangan dunia tradisional tersebut yang tidak mendikotomikan antara yang
sakral dan yang profan, maka etos kerja kaum Muslim selayaknya memperhatikan
kualitas pekerjaannya. Ini artinya, dalam bekerja karakteristik spiritual tetap
terjaga dan terpelihara yakni pekerjaan itu dilaksanakan dengan penuh tanggung
jawab.
Tanggung jawab terhadap kerja
berarti kesiapan untuk bertanggung jawab di hadapan Yang Mutlak karena kerja
adalah saksi bagi semua tindakan manusia.
2. Rumusan Masalah
Ruang lingkup dalam pembahasan “Etos kerja dalam
islam”.
PEMBAHASAN
3.
Pengertian
Etos kerja
Etos
berasal dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti sikap, kepribadian,
watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki
oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat . Dalam kamus besar
bahasa Indonesia etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan
keyakinan seseorang atau sesesuatu kelompok. Secara terminologis kata etos,
yang mengalami perubahan makna yang meluas. Digunakan dalam tiga pengertian
yang berbeda yaitu:
a. suatu
aturan umum atau cara hidup.
b. suatu
tatanan aturan perilaku.
c. Penyelidikan
tentang jalan hidup dan seperangkat aturan tingkah laku .
Dalam pengertian lain, etos dapat
diartikan sebagai thumuhat yang berkehendak atau berkemauan yang disertai
semangat yang tinggi dalam rangka mencapai cita-cita yang positif.
Akhlak atau etos dalam terminologi Prof. Dr. Ahmad Amin adalah membiasakan kehendak.
Akhlak atau etos dalam terminologi Prof. Dr. Ahmad Amin adalah membiasakan kehendak.
Kesimpulannya, etos adalah sikap yang tetap dan mendasar yang melahirkan
perbuatan-perbuatan dengan mudah dalam pola hubungan antara manusia dengan
dirinya dan diluar dirinya makna dari kata etos itu sendiri berarti watak atau
karakter seorang individu atau kelompok manusia yang berupa kehendak atau
kemauan yang disertai dengan semangat yang tinggi guna mewujudkan sesuatu
keinginan atau cita-cita dan Etos kerja merupakan refleksi dari sikap hidup
yang mendasar maka etos kerja yang pada dasarnya juga merupakan cerminan dari
pandangan hidup yang berorientasi pada nilai-nilai yang berdimensi transenden.
Menurut K.H. Toto Tasmara etos kerja adalah totalitas kepribadian dirinya serta caranya mengekspresikan, memandang, meyakini dan memberikan makna ada sesuatu, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal (high Performance) . sedangkan Etos kerja dalam arti luas menyangkut akan akhlak dalam pekerjaan. Untuk bisa menimbang bagaimana akhlak seseorang dalam bekerja sangat tergantung dari cara melihat arti kerja dalam kehidupan, cara bekerja dan hakikat bekerja. Dalam Islam, iman banyak dikaitkan dengan amal. Dengan kata lain, kerja yang merupakan bagian dari amal tak lepas dari kaitan iman seseorang. Idealnya, semakin tinggi iman itu maka semangat kerjanya juga tidak rendah. Ungkapan iman sendiri berkaitan tidak hanya dengan hal-hal spiritual tetapi juga program aksi. Dalam pengertian lain, etos dapat diartikan sebagai thumuhat yang berkehendak atau berkemauan yang disertai semangat yang tinggi dalam rangka mencapai cita-cita yang positif. Akhlak atau etos dalam terminologi Prof. Dr. Ahmad Amin adalah membiasakan kehendak. Kesimpulannya, etos adalah sikap yang tetap dan mendasar yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dalam pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan diluar dirinya .
Menurut K.H. Toto Tasmara etos kerja adalah totalitas kepribadian dirinya serta caranya mengekspresikan, memandang, meyakini dan memberikan makna ada sesuatu, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal (high Performance) . sedangkan Etos kerja dalam arti luas menyangkut akan akhlak dalam pekerjaan. Untuk bisa menimbang bagaimana akhlak seseorang dalam bekerja sangat tergantung dari cara melihat arti kerja dalam kehidupan, cara bekerja dan hakikat bekerja. Dalam Islam, iman banyak dikaitkan dengan amal. Dengan kata lain, kerja yang merupakan bagian dari amal tak lepas dari kaitan iman seseorang. Idealnya, semakin tinggi iman itu maka semangat kerjanya juga tidak rendah. Ungkapan iman sendiri berkaitan tidak hanya dengan hal-hal spiritual tetapi juga program aksi. Dalam pengertian lain, etos dapat diartikan sebagai thumuhat yang berkehendak atau berkemauan yang disertai semangat yang tinggi dalam rangka mencapai cita-cita yang positif. Akhlak atau etos dalam terminologi Prof. Dr. Ahmad Amin adalah membiasakan kehendak. Kesimpulannya, etos adalah sikap yang tetap dan mendasar yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dalam pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan diluar dirinya .
4.
Fungsi dan Tujuan Etos Kerja
Secara
umum, etos kerja berfungsi sebagai alat penggerak tetap perbuatan dan kegiatan
individu. Menurut A. Tabrani Rusyan, fungsi etos kerja adalah:
a. Pendorang timbulnya perbuatan.
b. Penggairah dalam aktivitas.
c. Penggerak, seperti mesin bagi mobil besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat lambatnya suatu perbuatan.
a. Pendorang timbulnya perbuatan.
b. Penggairah dalam aktivitas.
c. Penggerak, seperti mesin bagi mobil besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat lambatnya suatu perbuatan.
Kerja merupakan perbuatan melakukan pekerjaan atau menurut kamus W.J.S
Purwadaminta, kerja berarti melakukan sesuatu, sesuatu yang dilakukan . Kerja
memiliki arti luas dan sempit dalam arti luas kerja mencakup semua bentuk usaha
yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi maupun non materi baik bersifat
intelektual maupun fisik, mengenai keduniaan maupun akhirat. Sedangkan dalam
arti sempit, kerja berkonotasi ekonomi yang persetujuan mendapatkan materi.
Jadi pengertian etos adalah karakter seseorang atau kelompok manusia yang
berupa kehendak atau kemauan dalam bekerja yang disertai semangat yang tinggi
untuk mewujudkan cita-cita. Nilai kerja dalam Islam dapat diketahui dari tujuan
hidup manusia yang kebahagiaan hidup di dunia untuk akhirat, kebahagian hidup
di akhirat adalah kebahagiaan sejati, kekal untuk lebih dari kehidupan dunia,
sementara kehidupan di dunia dinyatakan sebagai permainan, perhiasan lading
yang dapat membuat lalai terhadap kehidupan di akhirat. Manusia sebelum
mencapai akhirat harus melewati dunia sebagai tempat hidup manusia untuk
sebagai tempat untuk mancari kebahagiaan di akhirat. Ahli-ahli Tasawuf
mengatakan: Untuk mencapai kebahagiaan di akhirat, manusia harus mempunyai
bekal di dunia dan di manapun manusia menginginkan kebahagiaan. Manusia berbeda-beda
dalam mengukur kebahagiaan, ada yang mengukur banyaknya harta, kedudukan,
jabatan, wanita, pengetahuan dan lain-lain. Yang kenyataannya keadaan-keadaan
lahiriah tersebut tidak pernah memuaskan jiwa manusia, bahkan justru dapat
menyengsarakannya. Jadi dianjurkan di dunia tapi tidak melupakan kehidupan
akhirat.
وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ.
Artinya:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(Q.S. Al-Qashash: 77) Pandangan Islam mengenai etos kerja, di mulai dari usaha mengangkap sedalam-dalamnya sabda nabi yang mengatakan bahwa niali setiap bentuk kerja itu tergantung pada niat-niat yang dipunyai pelakunya, jika tujuannya tinggi (mencari keridhaan Allah) maka ia pun akan mendapatkan nilai kerja yang tinggi, dan jika tujuannya rendah (seperti misalnya hanya bertujuan memperoleh simpati sesama manusia belaka) maka setingkat pula nilai kerjanya .
وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ.
Artinya:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(Q.S. Al-Qashash: 77) Pandangan Islam mengenai etos kerja, di mulai dari usaha mengangkap sedalam-dalamnya sabda nabi yang mengatakan bahwa niali setiap bentuk kerja itu tergantung pada niat-niat yang dipunyai pelakunya, jika tujuannya tinggi (mencari keridhaan Allah) maka ia pun akan mendapatkan nilai kerja yang tinggi, dan jika tujuannya rendah (seperti misalnya hanya bertujuan memperoleh simpati sesama manusia belaka) maka setingkat pula nilai kerjanya .
5.
Aspek Pekerjaan dalam Islam
Dalam
kehidupan pada saat sekarang, setiap manusia dituntut untuk bekerja guna memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan bekerja seseorang akan menghasilkan uang,
dengan uang tersebut seseorang dapat membelanjakan segala kebutuhan sehari-hari
hingga akhirnya ia dapat bertahan hidup. Akan tetapi dengan bekerja saja tidak
cukup, perlu adanya peningkatan, motivasi dan niat. Setiap pekerja, terutama
yang beragama islam, harus dapat menumbuhkan etos kerja secara Islami, karena
pekerjaan yang ditekuni bernilai ibadah. Hasil yang diperoleh dari pekerjaannya
juga dapat digunakan untuk kepentingan ibadah, termasuk didalamnya menghidupi
ekonomi keluarga. Oleh karena itu seleksi memililih pekerjaan menumbuhkan etos
kerja yang islami menjadi suatu keharusan bagi semua pekerjaan. Adapun etos
kerja yang islami tersebut adalah: niat ikhlas karena Allah semata, kerja keras
dan memiliki cita-cita yang tinggi.
Menurut Al-Ghazali dalam bukunya “Ihya-u “ulumuddin” yang dikutip Ali
Sumanto Al-Khindi dalam bukunya Bekerja Sebagai Ibadah, menjelaskan pengertian
etos (khuluk) adalah suatu sifat yang tetap pada jiwa, yang dari padanya timbul
perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak membutuhkan pikiran. Dengan demikian
etos kerja Islami adalah akhlak dalam bekerja sesuai dengan nilai-nilai islam
sehingga dalam melaksanakannya tidak perlu lagi dipikir-pikir karena jiwanya
sudah meyakini sebagai sesuatu yang baik dan benar. Menurut Dr. Musa Asy’arie
etos kerja islami adalah rajutan nilai-nilai khalifah dan abd yang membentuk
kepribadian muslim dalam bekerja. Nilai-nilai khalifah adalah bermuatan
kreatif, produktif, inovatif, berdasarkan pengetahuan konseptual, sedangkan
nilai-nilai ‘abd bermatan moral, taat dan patuh pada hukum agama dan
masyarakat. Toto Tasmara mengatakan bahwa semangat kerja dalam Islam kaitannya
dengan niat semata-mata bahwa bekerja merupakan kewajiban agama dalam rangka menggapai
ridha Allah, sebab itulah dinamakan jihad fisabilillah
Aspek
pekerjaan dalam Islam meliputi empat hal yaitu :
a.
Memenuhi
kebutuhan sendiri
Islam
sangat menekankan kemandirian bagi pengikutnya. Seorang muslim harus mampu
hidup dari hasil keringatnya sendiri, tidak bergantung pada orang lain.
Hal ini diantaranya tercermin dalah hadist berikut :
عن أبي
عبد الله الزبير بن العوام رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
لأن يأخذ أحدكم أحبله ثم يأتي الجبل، فيأتي بحزمةٍ من حطبٍ على ظهره فيبيعها، فيكف
الله بها وجهه، خيرٌ له من أن يسأل الناس،أعطوه أو منعوه. رواه البخاري.
Dari Abu
Abdillah yaitu az-Zubair bin al-Awwam r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Niscayalah jikalau seseorang dari engkau semua itu mengambil tali-talinya –
untuk mengikat – lalu ia datang di gunung, kemudian ia datang kembali – di
negerinya – dengan membawa sebongkokan kayu bakar di atas punggungnya, lalu
menjualnya,kemudian dengan cara sedemikian itu Allah menahan wajahnya – yakni
dicukupi kebutuhannya, maka hal yang semacam itu adalah lebih baik baginya
daripada meminta-minta sesuatu pada orang-orang, baik mereka itu suka
memberinya atau menolaknya.” (Riwayat Bukhari)
Rosullah memberikan
contoh kemandirian yang luar biasa, sebagai pemimpin nabi dan pimpinan umat
Islam beliau tak segan menjahit bajunya sendiri, beliau juga seringkali turun
langsung ke medan jihad, mengangkat batu, membuat parit, dan melakukan
pekerjaan-pekerjaan lainnya.
Para sahabat
juga memberikan contoh bagaimana mereka bersikap mandiri, selama sesuatu
itu bisa dia kerjakan sendiri maka dia tidak akan meminta tolong orang lain
untuk mengerjakannya. Contohnya, ketika mereka menaiki unta dan ada barangnya
yang jatuh maka mereka akan mengambilnya sendiri tidak meminta tolong lain.
b.
Memenuhi kebutuhan keluarga
Bekerja
untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungannya adalah kewajian
bagi seorang muslim, hal ini bisa dilihat dari hadist berikut :
قال رسول
الله(صلى الله عليه وسلم):” كفى بالمرء إثماً أن يضيع من يقوت” رواه أحمد وأبو
داود وصححه الحاكم وأقره الذهبي من حديث عبدالله ابن عمرو بن العاص.
Rasulullah saw
bersabada, “Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menelantarkan
orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya”. (HR. Ahmad, Abu Daud dan al-Hakim)
Menginfaqkan
harta bagi keluarga adalah hal yang harus diutamakan, baru kemudian pada
lingkungan terdekat, dan kemudian lingkungan yang lebih luas.
c.
Kepentingan seluruh makhluk
Pekerjaan
yang dilakukan seseorang bisa menjadi sebuah amal jariyah baginya, sebagaimana
disebutkan dalam hadist berikut :
عن
أنس قال النبي صلى الله عليه وسلم : ” ما من مسلم يغرس غرسا أو يزرع زرعا فيأكل
منه طير أو إنسان أو بهيمة إلا كان له به صدقة “
رواه
البخاري ( 2 / 67 طبع أوربا ) و مسلم ( 5 / 28 ) و أحمد ( 3 / 147 )
Dari
Anas, Rasulullah saw bersabda, “tidaklah seorang mukmin menanam tanaman, atau
menabur benih, lalu burung atau manusia atau hewan pun makan darinya kecuali
pasti bernilai sedekah baginya. (HR Bukhari)
Dalam era
modern ini banyak sekali pekerjaan kita yang bisa bernilai sebagai amal
jariyah. Misalnya kita membuat aplikasi atau tekhnologi yang berguna bagi umat
manusia. Karenanya umat Islam harus cerdas agar bisa menghasilkan
pekerjaan-pekerjaan yang bernilai amal jariyah.
d.
Bekerja sebagai wujud penghargaan terhadap
pekerjaan itu sendiri
Islam
sangat menghargai pekerjaan, bahkan seandainya kiamat sudah dekat dan kita
yakin tidak akan pernah menikmati hasil dari pekerjaan kita, kita tetap
diperintahkan untuk bekerja sebagai wujud penghargaan terhadap pekerjaan itu
sendiri. Hal ini bisa dilihat dari hadist berikut :
عن
أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” إن قامت الساعة و في يد
أحدكم فسيلة , فإن استطاع أن لا تقوم حتى يغرسها فليغرسها ”
. رواه البخاري في ” الأدب المفرد ” ( رقم 479 )
. رواه البخاري في ” الأدب المفرد ” ( رقم 479 )
Dari Anas RA,
dari Rasulullah saw, beliau bersabda, “Jika hari kiamat terjadi, sedang di
tanganmu terdapat bibit tanaman, jika ia bisa duduk hingga dapat menanamnya,
maka tanamlah. (HR Bukhari / Kitab Adab al-Mufrad).
6.
Kualitas Etik Kerja
Al-Qur’an
menanamkan kesadaran bahwa dengan bekerja berarti kita merealisasikan fungsi
kehambaan kita kepada Allah, dan menempuh jalan menuju ridha-Nya, mengangkat
harga diri, meningkatkan taraf hidup, dan memberi manfaat kepada sesama, bahkan
kepada makhluk lain.
Dengan
tertanamnya kesadaran ini, seorang muslim atau muslimah akan berusaha mengisi
setiap ruang dan waktunya hanya dengan aktivitas yang berguna. Semboyangnya
adalah “tiada waktu tanpa kerja, tiada waktu tanpa amal.’ Adapun
agar nilai ibadahnya tidak luntur, maka perangkat kualitas etik kerja yang
Islami harus diperhatikan.
Berikut ini
adalah kualitas etik kerja yang terpenting untuk dihayati :
·
Ash
Sholah (baik dan bermanfaat)
Islam
hanya memerintahkan atau menganjurkan pekerjaan yang baik dan bermanfaat bagi
kemanusiaan, agar setiap pekerjaan mampu memberi nilai tambah dan mengangkat
derajat manusia baik secara individu maupun kelompok. “Dan masing-masing
orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.”
(al-An’am: 132)
·
Al
Itqon (Kemantapan atau perfectness)
Kualitas
kerja yang itqan atau perfect merupakan sifat pekerjaan Tuhan
(baca: Rabbani), kemudian menjadi kualitas pekerjaan yang islami (an-Naml: 88).
Rahmat Allah telah dijanjikan bagi setiap orang yang bekerja secara itqan,
yakni mencapai standar ideal secara teknis. Untuk itu, diperlukan dukungan
pengetahuan dan skill yang optimal.
Dalam konteks
ini, Islam mewajibkan umatnya agar terus menambah atau mengembangkan ilmunya
dan tetap berlatih. Suatu keterampilan yang sudah dimiliki dapat saja hilang,
akibat meninggalkan latihan, padahal manfaatnya
besar untuk masyarakat.
Karena itu,
melepas atau menterlantarkan ketrampilan tersebut termasuk perbuatan dosa.
Konsep itqan memberikan penilaian lebih terhadap hasil pekerjaan yang
sedikit atau terbatas, tetapi berkualitas, daripada output yang
banyak, tetapi kurang bermutu (al-Baqarah: 263).
·
Al
Ihsan (Melakukan yang terbaik atau lebih baik lagi)
Kualitas
ihsan mempunyai dua makna dan memberikan dua pesan, yaitu sebagai
berikut:
Pertama,
ihsan berarti ‘yang terbaik’ dari yang dapat dilakukan. Dengan makna
pertama ini, maka pengertian ihsan sama dengan ‘itqan’. Pesan yang
dikandungnya ialah agar setiap muslim mempunyai komitmen terhadap dirinya untuk
berbuat yang terbaik dalam segala hal yang ia kerjakan.
Kedua ihsan mempunyai makna ‘lebih baik’ dari prestasi atau
kualitas pekerjaan sebelumnya. Makna ini memberi pesan peningkatan yang
terus-menerus, seiring dengan bertambahnya pengetahuan, pengalaman, waktu, dan
sumber daya lainnya. Adalah suatu kerugian jika prestasi kerja hari ini
menurun dari hari kemarin, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits Nabi saw.
Keharusan berbuat yang lebih baik juga berlaku ketika seorang muslim membalas
jasa atau kebaikan orang lain. Bahkan, idealnya ia tetap berbuat yang lebih
baik, hatta ketika membalas keburukan orang lain (Fusshilat
:34, dan an Naml: 125)
·
Al
Mujahadah (Kerja keras dan optimal)
Dalam
banyak ayatnya, Al-Qur’an meletakkan kulaitas mujahadah dalam bekerja
pada konteks manfaatnya, yaitu untuk kebaikan manusia sendiri, dan
agar nilai guna dari hasil kerjanya semakin bertambah. (Ali Imran:
142, al-Maidah: 35, al-Hajj: 77, al-Furqan: 25, dan
al-Ankabut: 69).
Mujahadah
dalam maknanya yang luas seperti yang didefinisikan oleh Ulama adalah ”istifragh
ma fil wus’i”, yakni mengerahkan segenap daya dan kemampuan yang ada dalam
merealisasikan setiap pekerjaan yang baik. Dapat juga diartikan sebagai
mobilisasi serta optimalisasi sumber daya. Sebab, sesungguhnya Allah SWT telah
menyediakan fasilitas segala sumber daya yang diperlukan melalui hukum ‘taskhir’,
yakni menundukkan seluruh isi langit dan bumi untuk manusia (Ibrahim: 32-33).
Bermujahadah
atau bekerja dengan semangat jihad (ruhul jihad) menjadi kewajiban
setiap muslim dalam rangka tawakkal sebelum menyerahkan (tafwidh)
hasil akhirnya pada keputusan Allah (Ali Imran: 159, Hud: 133).
·
Tanafus
dan Ta’awun (Kompetisi dan tolong menolong)
Al-Qur’an
dalam beberapa ayatnya menyerukan persaingan dalam kualitas amal solih. Pesan
persaingan ini kita dapati dalam beberapa ungkapan Qur’ani yang bersifat “amar”
atau perintah. Ada perintah “fastabiqul khairat” (maka,
berlomba-lombalah kamu sekalian dalam kebaikan) (al-Baqarah: 108).
Begitu pula
perintah “wasari’u ilaa magfirain min Rabbikum wajannah” `bersegeralah lamu
sekalian menuju ampunan Rabbmu dan surga` Jalannya adalah melalui kekuatan
infaq, pengendalian emosi, pemberian maaf, berbuat kebajikan, dan bersegera
bertaubat kepada Allah (Ali Imran 133-135).
Kita dapati
pula dalam ungkapan “tanafus” untuk menjadi hamba yang gemar berbuat
kebajikan, sehingga berhak mendapatkan surga, tempat segala kenikmatan (al-Muthaffifin:
22-26).
وَلِكُلٍّ
وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا
يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
Artinya:
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Al-Baqarah: 148)
Dinyatakan pula dalam konteks persaingan dan ketaqwaan, sebab yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah insan yang paling taqwa (al Hujurat: 13). Semua ini menyuratkan dan menyiratkan etos persaingan dalam kualitas kerja.
Artinya:
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Al-Baqarah: 148)
Dinyatakan pula dalam konteks persaingan dan ketaqwaan, sebab yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah insan yang paling taqwa (al Hujurat: 13). Semua ini menyuratkan dan menyiratkan etos persaingan dalam kualitas kerja.
·
Mencermati
Nilai Waktu
Jika
kita melihat mengenai kaitan waktu dan prestasi kerja, maka ada baiknya dikutip
petikan surat Khalifah Umar bin Khatthab kepada Gubernur Abu
Musa al-Asy’ari ra, sebagaimana dituturkan oleh Abu Ubaid,
”Amma ba’du. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu terletak pada prestasi
kerja. Oleh karena itu, janganlah engkau tangguhkan pekerjaan hari ini hingga
esok, karena pekerjaanmu akan menumpuk, sehingga kamu tidak tahu lagi mana yang
harus dikerjakan, dan akhirnya semua terbengkalai.” (Kitab al-Amwal,
10)
وَالْعَصْرِ.
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.
Artinya:
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-Ashr: 1-3)
Artinya:
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-Ashr: 1-3)
·
Bertanggung jawab.
Semua
masalah diperbuat dan dipikirkan, harus dihadapi dengan tanggung jawab, baik
kebahagiaan maupun kegagalan, tidak berwatak mencari perlindungan ke atas, dan
melemparkan kesalahan di bawah. Allah berfirman:
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا.
Artinya:
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.(Q.S. Al-Isra’: 7) .
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا.
Artinya:
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.(Q.S. Al-Isra’: 7) .
·
Hemat dan sederhana.
Seseorang
yang memiliki etos kerja yang tinggi, laksana seorang pelari marathon lintas
alam yang harus berlari jauh maka akan tampak dari cara hidupnya yang sangat
efesien dalam mengelola setiap hasil yang diperolehnya. Dia menjauhkan sikap
boros, karena boros adalah sikapnya setan.
7.
Adab Bekerja
Bekerja
dengan motivasi di atas bisa melahirkan kerja keras, tegar, jujur dan
profesional. Adapun kerja yang didasari hanya dengan motivasi jabatan dan
kekayaan menjadikan seseorang bekerja ketika ada iming-iming atau konsekuensi
jabatan dan kekayaan, jika tidak ada, ia akan enggan atau bermalas-malasan.
Tetapi motivasi ibadah dalam bekerja bisa melahirkan karya dan produktivitas
meski tidak dalam pengawasan manusia, meski jauh dari kontrol atasan.
Bekerja untuk pengabdian dan agar menggapai ridha Allah perlu memperharikan adab-adab sebaga berikut:
Bekerja untuk pengabdian dan agar menggapai ridha Allah perlu memperharikan adab-adab sebaga berikut:
a. Menghadirkan niat yang baik.
Niat
ibadah karena Allah, niat mencari rizki yang halal, niat memakmurkan bumi Allah
dan niat baik lainnya. Dengan niat ini amal kebiasaan atau rutin seseorang bisa
bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Pada satu pagi Rasul Saw. Dan para Sahabat
sedang berkumpul kemudian mereka melihat seseorang yang kuat berjalan dengan
cepat dan enerjik menuju kerja. Para Sahabat takjub terhadap orang tersebut.
Maka para Sahabat berkata: Wahai Rasul Saw. bila saja ia berada dalam jalan
Allah (fi Sabilillah) -pasti lebih baik baginya-. Maka Rasul Saw. berkata:
“Jika ia bekerja untuk anaknya yang masih kecil, maka itu berarti fi
Sabilillah. Jika ia bekerja untuk kedua orangtuanya yang renta maka itu berarti
fi Sabilillah. Dan jika ia bekerja karena riya dan kebanggaan maka itu di jalan
Setan”. (HR. Atabrani).
b. Tidak menunda-nunda amal.
Dalam
kaitan ini Rasulullah Saw. mendorong Umatnya nutuk berpagi-bagi,haditsnya
berbunyi: Ya Allah berkahilah Umatku di pagi hari. (HR. Tirmidzi, Ibnu majah
dan Ahmad). Dalam pepatah Arab disebutkan: “jangan tunda amal hari ini hingga
esok.”
c. Bersungguh-sungguh.
Pepatah
mengatakan: Siapa yang bersungguh-sungguh dia akan dapat”.
d. Bekerja dengan rapi.
Rasulullah
Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT. mencintai seseorang yang bekerja dengan
rapi di antara kalian”. (HR. Baihaqi).
e. Tawadhu (Rendah hati) dan syukur.
Sebagus
apapun pekerjaannya, seorang Muslim dilarang untuk bersikap sombong. Rasul Saw.
bersabda: Tidak masuk Surga siapa yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat
biji sawi. (HR. Muslim).
f. Tidak melupakan kewajiban ibadah kepada
Allah SWT.
Meskipun
bekerja bisa menjadi sarana penghambaan diri kepada Allah SWT., ia tidak
sepatutnya melenakan manusia dari menunaikan kewajiban-kewajiban ibadah kepada
Allah SWT.
g. Meninggalkan hal-hal yang dilarang agama.
Agar
pekerjaan bisa bernilai ibadah dan diterima di sisi Allah SWT. perlu ada
minimal dua syarat; pertama, niat karena Allah SWT. dan kedua,
tidak bertentangan dengan aturan syariat.
PENUTUP
Kesimpulan
Etos kerja merupakan kehendak atau berkemauan yang disertai
semangat yang tinggi dalam rangka mencapai cita-cita yang positif dalam suatu
tatanan suatu prilaku dalam sebuah pekerjaan. Islam sangat menghargai kerja keras, kreatifitas maupun
inovasi yang dihasilkan melalui tangan seseorang dalam melakukan pekerjaan.
Islam juga mengharuskan setiap pekerjaan dilakukan secara bertanggung
jawab,rofesional,mengharagai waktu juga tidak menunda-nunda sebuah pekerjaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar